makalah kelompok kriminalistik

August 22, 2017 | Penulis: Daniel Ajjah | Kategori: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat

Download makalah kelompok kriminalistik...

Deskripsi

c c    

 c      Pemeriksaan perkara sebagai proses mencari keadilan dan kebenaran materil dalam penyelesaian perkara pidana tak terlepas dari proses interogasi. Pada saat laporan dan pengaduan diterima oleh penyidik, maka penyidik akan segera melakukan penyelidikan sebagai tahap untuk menemukan apakah peristiwa yang terjadi benar-benar merupakan peristiwa pidana atau tidak. Kemudian dilanjutkan dengan tahap penyidikan, dimana penyidikan bertujuan untuk mencari bukti-bukti dan menemukan tersangka atas peristiwa pidana yang terjadi1. Menurut de Pinto, menyidik (’  ’) berarti pemeriksaan permulaan oleh pejabat-pejabat yang untuk itu ditunjuk oleh Undang-undang segera setelah mereka dengan jalan apapun mendengar kabar yang sekedar beralasan, bahwa ada terjadi suatu pelanggaran hukum.2Salah satu rangkaian terpenting yang termasuk kedalam proses penyidikan oleh penyidik yaitu, tahap interogasi. Menurut Undang-undang No. 8 Tahun 1981 (KUHAP) terdapat pentahapan fungsi dalam proses peradilan pidana. Fungsi, wewenang dan tanggung jawab dari alat-alat Negara penegak hukum untuk memperlancar proses peradilan pidana dimana tugas penyidikan dibebankan, dipertanggung jawabkan kepada Kepolisian Republik Indonesia dan Pejabat

1 2

Pegawai Negeri Sipil tertentu (pasal 1 butir 1 jo. Pasal 6

M.Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, hlm. 134 Moc Fasisal Salam, Hukum Acara Pidana Teori dan Praktek. CV. Mandar Maju, Bandung 2001.hal 45.

KUHAP).3Kedudukan polisi sebagai penyidik berkewajiban mengkoordinir penyidik Pegawai Negeri Sipil Tertentu dengan memberikan petunjuk-petunjuk, bantuan dan pengawasan. Pemeriksaan

perkara

yang

bertolak

pada

usaha

mencapai

keadilan,

memperingatkan pemeriksa bahwa setiap subjek yang diperiksa harus diperlakukan sebagai manusia biasa dengan hak-hak nya sebagai warga Negara yang harus dilindungi oleh hukum.Status subjek yang diperiksa pada waktu itu sedang mendekati persimpangan jalan antara berasalah dan tidak bersalah. Sepanjang bukti-bukti yang sah menurut hukum tidak mampu mebuktikan kesalahannya, maka seorang pemeriksa akan sangat keliru untuk bertindak mendahului keputusan hakim. Pada tahap ini, penyidik khususnya pihak kepolisian, mencari data-data terkait tindak pidana yang terjadi dengan mengajukan beberapa pertanyaan pada pihak-pihak terkait juga. Utamanya, interogasi ini dilakukan pada tersangka, korban dan saksi.Biasanya, penyidik mengajukan banyak sekali pertanyaan. Dari proses interogasi, khususnya terhadap tersangka juga dapat ditentukan apakah ia dalam melakukan tindak pidana itu dalam keadaan sadar, atau mengalami gangguan jiwa. Apabila tidak ditemukan kebenaran yang menjelaskan bahwa si pelaku melakukan tindak pidana dalam keadaan tidak sadar ataupun depresi, maka hal ini dapat menjadi alasan hapusnya pidana.

c      



Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah

sebagai berikut : 3

Said Buchari, Sari Pati Hukum Acara Pidana, Cetakan Pertama, Jakarta 1997, hal 29

1. Penjelasan tentang interogasi secara umum 2. Teknik dan unsur-unsur di dalam interogasi 3. Praktek interogasi di Indonesia [    



Berdasarkan penulisan makalah ini, diharapkan tujuan yang dicapai adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana penjelasan tentang interogasi secara umum 2. Untuk mengetahui teknik dan unsur-unsur yang dilakukan didalam interogasi 3. Untuk mengetahui praktek interogasi di Indonesia      



Adapun manfaat yang akan dicapai dalam penulisan makalah ini adalah :

1. Manfaat Teoritis a. Untuk melatih kemampuan penulis melakukan penelitian ilmiah b. Untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan hukum yang diperoleh di bangku perkuliahan khususnya pada proses interogasi dalam tahap penyidikan. c. Untuk memperluas ilmu pengetahuan dibidang hukum, khususnya dalam proses interogasi oleh pihak penyidik. 2. Manfaat Praktis a. Memberikan sumbangan pemikiran mengenai proses interogasi oleh penyidik. b. Agar hasil penelitian ini dapat digunakan bagi semua pihak, baik pihak pemerintah, masyarakat umum dan pihak-pihak yang bekerja d bidang hukum, khususnya pihak yang berwenang dalam penyidikan.

c c c             Menurut kamus besar bahasa indonesia, interogasi berarti pertanyaan / pemeriksaan thd seseorang melalui pertanyaan lisan yg bersistem. Sedangkan menginterogasi berarti mengajukan pertanyaan. Jika dikaitkan dengan kriminalistik, interogasi adalah salah satu cara penyidik untuk mengungkap / membuat terang suatu tindak pidana yang terjadi dengan cara memberikan pertanyaan lisan yang bersistem. Pertanyaan tersebut dapat diajukan pada tersangka pelaku tindak pidana, korban, saksi, maupun pihak - pihak lain yang dirasa perlu. Pada hakikatnya, interogasi dilakukan untuk memperoleh keterangan yang diketahui oleh orang yang diinterogasi4. Interogasi memang sangat berguna dalam penyidikan tindak pidana. Karena cara ini dapat membantu polisi dalam mengusut tindak pidana yang terjadi. Terutama untuk menemukan tersangka dan motif dari tindakan tersebut. Akan tetapi, pada prakteknya, caracara interogasi yang dilakukan pihak kepolisian seringkali bertentangan dengan hukum dan melanggar HAM. Polisi tak jarang menggunakan kekerasaan demi mendapat keterangan, terutama dari tersangka. Menginterogasi tersangka tidaklah semudah menginterogasi saksi atau korban. Karena yang menjadi tujuan penyidik adalah membuat seseorang mau mengakui tindak pidana yang dilakukannya. Kebanyakan interogasi mengeksploitasi kelemahan manusia.

4

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kelemahan ini biasanya tergantung pada tekanan yang dihasilkan ketika orang mengalami keadaan ekstrem yang berlawanan, seperti dominasi dan terdominasi, kontrol dan yang dikontrol, pemaksimalan dan peminimalan konsekuensi.Bahkan penjahat paling kakap pun bisa berujung pada pengakuan jika tukang interogasinya bisa menemukan kombinasi yang pas antara teknik dan keadaan berdasar pada kepribadian tersangka dan pengalamannya. Ô        Membicarakan sikap pemeriksa, sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari watak orang. Sebelum melakukan proses interogasi, seorang polisi hendaklah mengetahui bagaimana psikologi dari korban, saksi atau tersangka yang akan dilakukan interogasi terhadapnya. Inbau dan reid mengemukakan 12 unsur yang berhubungan dengan introgator. Unsur-unsur tersebut adalah : 1. Dalam melakukan interogasi, polisi harus menghindari sikap dapat menimbulkan kesan pada tersangka bahwa pemerinsa hendak berusaha untuk memperoleh pengakuan atau hendak mencari kesalahan. Adalah suatu kebijaksanaan untuk menampilkan diri sebagai orang yang berusaha untuk menampilkan kebenaran. Unsur pertama merupakan cerminan kelemahan petugas yang tidak terdidik. Misalnya, melaksanakan pelaksanaan tugas dengan lebih menonjolkan diri pribadi. Keadaan tersebut dapat terlihat, misalnya pada petugas reserse yang melakukan tugas dengan menggunakan pakaian preman. 2. Dalam pemeriksaan pendahuluan, pemeriksa sebaiknya menjauhkan pensil dan kertas yang biasanya dipergunakan sebagai alat-alat yang digunakan unutuk membuat catatan. Sedangkan demikian itu, menurut inbau dan reid adalah untuk membentuk suasana informal sehingga dirasakan oleh tersangka tidak sebagai

suasana yang kaku dan tegang. Penggunaan pensil dan kertas hendaknya dipergunakan setelah pemeriksaan pendahuluan. 3. Istilah-istilah seperti ³membunuh´, ³mencuri´ atau ³mengaku´ atau tidak dipergunakan oleh pemeriksa. Lebih bijaksana rasanya jika menggunakan istilah ³menembak´ ³mengambil´ dan ³katakanlah sebenarnya. Jika yang diperiksa kelihatan berbohong, sebaiknya tidak menggunakan istilah ³bohong´ tetapi lebih bermanfaat jika menggunakan ³anda belum menjelaskan keseluruhannya secara benar. 4. Seperti unsur yang disarankan pada bagian kedua, maka dipandang lebih bermanfaat jika pemeriksaan dilakukan tanpa menggunakan meja tulis. Pemeriksa dan yang diperiksa merasa kelegaan dalam pemeriksaan itu. Bahkan dianjurkan pula agar mata pemeriksa dan yang siperiksa berada pada level ketinggian yang sama. Kita dapat memahami bahwa tersinggungnya perasaan manusia tidak hanya dengan kata-kata tetapi juga dapat disebabkan karena sikap. Kepentingan lain yang dikemukakan oleh inbau dan reid dalam hal ini adalah suasana ³favourable´ yang harus diciptakan selama proses pemeriksaan itu. 5. Sebaiknya pemeriksa tidak mondar-mandir di bilik selama pemeriksaaan dilakukan. Duduk dengan tenang, melakukan pemeriksaan sebagai melakukan percakapan biasa. Mondar-mandir dapat mengganggu pemusatan pikiran yang diperiksa dalam mengingat sesuatu. 6. Pemeriksa hendaknya berusaha sedapat mungkin untuk mengurangi rokok, karena dapat membuat yang diperiksa melakukan hal yang sama.

·. Pergunakan bahasa yang mudah dimengerti. Sebalinknya jika yang diperiksa menggunakan bahasa daerah, pemeriksa sebijak mungkin untuk mengambil kesimpulan untuk memahami. 8. Pemeriksa hendaknya selalu berusaha untuk tetap mengahargai pribadi orang yang diperiksa, betapapun perbuatan yang telah dilakukannya. Menghadapi seorang pelacur misalnya dalam pemeriksaan harus tetap memandangnya sebagai orang yang biasa saja. Perlakuan dan penghargaan yang wajar terhadap seorang tersangka, betapa buruk kejahatan yang telah dilakukannya akan lebbiih bermanfaat daripada melakukan sebaliknya. 9. Jika pemeriksa menjumpai bahwa yang diperiksa bohong, janganlah segera mencelanya dengan mengatakan ³mengapa engkau membohong dihadapanku´, adalah bijaksana untuk menyembunyikan reaksi-reaksi yang menyebabkan kekecewaan. Tanpa menyanggalnya, lebih baik pemeriksa menunjukkan hal-hal yang dapat menimbulkan kesan pada yang diperiksa, bahwa pemeriksa tahu tentang keadaan sebenarnya yang belum diceritakan oleh yang diperiksa. 10.Jika pemeriksa merasa perlu adanya suasana tanpa ketegangan dan ketakutan selama pemeriksaan dilakukan, dan memberikan jaminan bahwa yang diperiksa dapat dipercaya untuk tidak melarikan diri ataupun melakukan penganiayaan terhadap pemeriksa. 11.Si pemeriksa harus dapat menempatkan diri didalam sepatu orang yang diperiksa. Dengan ini dimaksudkan oleh inbau dan reid nahwa seorang pemeriksa harus dapat merasakan, jika sekiranya dirinya yang diperiksa. Jika dapat dirasakan demikian maka pemeriksa akan dapat merasakan bagaimana jalan pikiran orang

yang diperiksa bagaimana ia akan bereaksi, kata-kata apakah yang akan dipergunakannya. 12.Pandanglah bahwa orang yang diperiksa adalah manusia dengan sifat-sifat kemanusiaannya. Janganlah memandangnya sebagai binatang buruan, apalagi memandangnya sebagai suatu objek yang disangka dapat dibentuk semua pemeriksa. -       !!  Aalaupun interogasi memiliki peranan yang penting dalam mengungkap modus suatu tindak pidana tapi pada prakteknya masih banyak terjadi kelemahan-kelemahan yang dilakukan oleh penyidik dalam tahap ini.Kecenderungan kelemahan ini banyak terjadi pada penyidik pihak kepolisian, yaitu pada teknik yang dilakukan mereka.Banyak praktek-praktek interogasi yang melanggar hak asasi manusia. Pada umumnya, dalam mencari tahu keterangan dari orang yang diiinterogasi, khususnya tersangka, pihak kepolisian seringkali menggunakan kekerasan.Terutama apabila jawaban yang diperlukan polisi tidak diketahui oleh tersangka.Contoh kasus yang baru-baru ini ini terjadi di daerah sijunjung, sumatera barat. Kronologisnya sebagai berikut : Aarga Jorong Koto Tangah Nagari Pematang Panjang, Sijunjung, Sumatera Barat, menangkap Faisal Akbar.Bocah 14 tahun itu ditangkap karena ciri-cirinya mirip dengan pelaku yang mencuri kotak infak Surau Irsyanuddin, beberapa waktu sebelumnya.Yaitu, rambut pirang, jaket merah, celana pensil dan mengendarai sepeda motor tanpa nomor polisi.Ciri-ciri itu diketahui warga dari Mukhsin yang mengaku melihat pelaku mencuri kotak infak tersebut.

Setelah diperlihatkan ke Mukhsin dan bersangkutan membenarkan anak itu yang mencuri kotak infak, Faisal diamankan ke Kantor Aali Nagari.Disana sejumlah warga menginterogasi.Awalnya, Faisal yang berasal dari keluar miskin dan hanya tamat SD tersebut tidak mengaku.Beberapa warga kesal dan menampar pipinya sekitar tiga kali.Sebagian kemudian melerai dan mencoba membujuknya dengan memberikan air teh dan beberapa potong kue. Setelah berkali-kali ditanyai soal pencurian kotak infak, entah karena sadar itu salah atau takut ditampar lagi, Faisal akhirnya mengakui bahwa ia yang mencuri kotak infak. Aarga pun hari itu, Rabu 21 Desember 2011 akhirnya melaporkan hal itu ke Polsek Sijunjung.Intinya, warga menangkap seorang anak yang diduga pelaku pencurian kotak infak Surau Irsyanuddin.Di kantong celananya juga ditemukan ada besi kecil lurus dan bengkok. Polisi pun datang ke Kantor Aali Nagari untuk menjemput.Setelah itu Faisal diangkut ke Mapolsek Sijunjung dan langsung dijebloskan dalam tahanan. Disana, neraka pun datang menghampiri bocah yang hanya hidup bersama ibunya tersebut karena sang ayah telah bercerai dengan ibunya dan kawin lagi. Jauh dari keramaian dan pantauan penduduk, dalam tahanan bocah itu menjalani prosesi penyiksaan Polisi tampaknya ingin cepat memberkas perkaranya.Maklum, Faisal hanyalah anak sebuah keluarga miskin.Bukan berasal dari keluarga kaya yang biasa memberikan µsaweran¶ pada petugas bila tersangkut kasus pidana.Faisal juga bukan tersangka kasus korupsi yang sudah tentu banyak duit dari merampok uang negara hingga bisa diharapkan µhepengnya¶.

Polisi tampakya makin nafsu menginterogasi Faisal setelah di kantong celananya ditemukan ada besi yang diklaim polisi sebagai kunci letter T, sebuah kunci yang selama ini pavorit dipakai untuk mencuri kendaraan bermotor. Interogasi pun beralih dari mengejar pengakuan sebagai pelaku pencurian kotak infak ke pelaku pencurian kendaraan bermotor. Lagi-lagi dibawah tekanan µinterogasi¶ yang sudah ada sejak zaman batu itu, Faisal pun mengaku Karena secara logika tak mungkin sendirian mencuri sepeda motor, polisi pun menanyakan teman seprofesinya. Dibawah tekanan µinterogasi¶ polisi, Faisal pun ± entah karena rela atau terpaksa ± menyebut nama kakaknya Budri. Sang kakak yang masih berumur 1· tahun dan bekerja serabutan di terminal, akhirnya ditangkap polisi. Dua kakak adik ini pun akhirnya sama-sama meringkuk di tahanan Sasaran interogasi untuk mendapatkan pengakuan pun tak lagi pada Faisal, tapi bertambah dengan sasaran kakaknya.Melalui interogasi itu lah konon diperoleh pula pengakuan dari dua kakak adik tersebut bahwa mereka telah mencuri sedikitnya 28 sepeda motor. Entah bagaimana cara interogasinya, cuma polisi dan dinding tahanan yang tahu. Yang pasti saat keduanya dibesuk ibunya Syamsidar, sebagaimana pengakuan Syamsidar, keduanya sudah tak bisa jalan lagi Tujuh hari setelah Faisal ditahan, 28 Desember 2011, dua kakak adik tersebut ditemukan tewas tergantung di kamar mandi tahanan. Kepada keluarga Faisal dan Budri, polisi menyebut bahwa keduanya bunuh diri.Tetapi keluarga keduanya dan publik tidak

begitu saja percaya. Pasalnya pada tubuh kedua kakak adik tersebut ditemukan banyak luka dan lebam seperti bekas penyiksaan berat Beragam dugaan penyebab kematian dua kakak adik itu pun merebak.Pertama terbunuh karena siksaan dalam tahanan tapi ditutupi dengan kesan bunuh diri seperti perkiraan para aktivis Hak Azazi Manusia (HAM). Kedua, memang bunuh diri, tapi akibat keduanya sudah tidak tahan lagi menanggung siksaan hari demi hari saat interogasi yag sepertinya tak habis-habisnya. Bayangkan, awalnya tuduhan pencurian kotak infak lalu berkembang ke pencurian sepeda motor. Dugaan mana saja dari dua dugaan penyebab kematian dua kakak adik tersebut yang benar, hal itu tentu saja jelas meletakan aparat kepolisian Polsek Sijunjung dalam posisi yang sangat bersalah.Sebab, menginterogasi tahanan dengan siksaan untuk mendapatkan pengakuan merupakan pelanggaran berat terhadap hak azazi manusia (HAM).Apalagi bila sampai tahanan terbunuh atau terpaksa memilih bunuh diri. Sekedar diketahui, Konvensi Jenewa menyebutkan bahwa interogasi dengan siksaan untuk mendapatkan pengakuan merupakan pelanggaran HAM berat. Begitu juga pasal 1 UU No.5/1998 tentang ratifikasi Konvensi Internasional Anti Penyiksaan dan pasal 9 UU No.26/2000 tentang Pengadilan HAM yang pada pokoknya menyebutkan bahwa penyiksaan

merupakan

salah

satu

bentuk

kejahatan

terhadap

kemanusiaan.

Bila benar adanya penyiksaan dalam kematian Faisal dan Budri ini tentu saja menambah daftar hitam pelanggaran HAM yang dilakukan kepolisian sepanjang tahun 2011 yang baru saja berlalu. Sebab, sebelumnya Komisi Nasional HAM (Komnas HAM) dalam

catatan akhir tahunnya melaporkan bahwa Polri merupakan pelanggar HAM tertinggi dalam tahun 2011.

c c  "# !   



Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa interogasi merupakan suatu

proses dalam tahap penyidikan yang dilakukan oleh penyidik guna mencari kebenaran suatu tindak pidana. Adapun tahap yang dilakukan dalam interogasi yaitu meberikan beberapa pertanyaan terhadap pihak-pihak yang terkait dalam tindak pidana tersebut, khususnya tersangka, saksi dan korban.Interogasi memiliki peranan penting karena melalui interogasi, penyidik dapat menemukan modus si pelaku melakukan tindak pidana. Namun, dari segala ketentuan dan teknik interogasi yang telah dijabarkan dalam makalah ini, dalam prakteknya ternyata masih banyak terjadi kelemahan-kelemahan yang dilakukan oleh pihak penyidik khususnya pada pihak kepolisian.Karena, mereka cenderung lebih banyak menggunakan kekerasan dalam mencari keterangan yang dibutuhkan. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya kelemahan-kelemahan dalam interogasi, maka upaya yang dapat dilakukan adalah memperbaharui ketentuan tentang tata cara interogasi dan reformasi terhadap pihak kepolisian sebagai penyidik.

Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 DOKUMENSAYA.COM Inc.