Dilema Etik Keperawatan

May 20, 2016 | Penulis: D Ry Wilasa | Kategori: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat

Dilema Etis Kegawatan Medis DI ICCU...

Deskripsi

Sabtu, 07 Januari 2012
Dilema etik keperawatan
BAB I
PENDAHULUAN
11
 
Latar Belakan!
Dewasa ini menghadapi pasien yang dalam kondisi antara hidup dan mati
kadang menimbulkan dilema. Meminta petimbangan keluarga pasien, seringkali
tidak menyelesaikan masalah justru menimbulkan masalah baru.
Pasien-pasien sakit berat yang mengandalkan bantuan ventilator dan alat-alat
 penunjang hidup lainnya, seringkali membingungkan dokter yang merawatnya. Dari
sisi medis, pasien tidak ada harapan hidup karena hampir semua organ vital
tubuhnya sudah rusak. Namun di sisi lain, mencabut semua alat bantu hidup
dianggap sebagai tindakan pembunuhan´ yang tentunya bisa berbuntut peluang
 penuntutan oleh keluarga pasien. Di luar itu, biaya perawatan !" yang tidak murah
semakin membengkak dan bisa jadi keluarga pasien pun tak sanggup
menanggungnya.
#ituasi tersebut seringkali dialami oleh dokter yang bertugas di !". $nd-o% 
li%e decisions, atau keputusan untuk mengakhiri hidup pasien-pasien yang tidak ada
harapan hidup, dilihat dari pertimbangan etis dan medis. Pasien kritis yang memiliki
harapan hidup wajib masuk !". Namun hanya ada empat kemungkinan bagi
 pasien yang masuk !"& sembuh 'getting better(, meninggal, mengalami mati
 batang otak 'brain stem death(, atau dalam kondisi tidak ada harapan hidup dan
sepenuhnya bergantung dengan bantuan ventilator.
Pasien jenis terakhir inilah yang terkadang menjadi dilema bagi dokter. Dari
sisi penilaian medis, pemberian ventilator tidak akan berman%aat, hanya
memperpanjang proses kematian. Masalahnya di ndonesiabelum banyak dokter 
yang berani melakukan end-o%-li%e decision. Padahal, sudah ada %atwa D yang
membolehkan hal itu. )da beberapa pilihan yang bisa dilakukan dokter terhadap
 pasien tanpa harapan hidup, yakni with-holding atau with-drawing li%e supports,
yakni penundaan atau penghentian alat bantuan hidup.
*edua tindakan ini bisa dilakukan pada pasien yang dalam kondisi vegetati% 
'sindroma aplika atau mati sosial(. *ondisi vegetati% bisa dijelaskan secara medis
 bila terdapat kerusakan otak berat yang ireversibel pada pasien yang tetap tidak 
sadar dan tidak responsive, tetapi pasien memiliki $$+ akti% dan beberapa re%leks
yang utuh.Pada pasien bisa saja terdapat daur antara sadar dan tidur. ni harus
dibedakan dari mati serebral yang $$+-nya tenang atau dari mati batang otak 
'M(, di mana tidak ada re%leks sara% otak dan na%as spontan. Meski sebagian
masyarakat masih sulit menerima, namun pasien yang sudah mati batang otak, dari
sisi medis dinyatakan sudah meninggal.
 Normalnya, ventilator secara otomatis akan dilepaskan dari pasien dan
 jantung akan berhenti tidak lama kemudian. Namun secara legal maupun moral,
sebenarnya tidak ada perbedaan di antara kedua tindakan tersebut.indakan ini
 berbeda dengan eutanasia yang diartikan sebagai tindakan akti% dan langsung untuk 
mengakhiri kehidupan. #ebagian besar negara termasuk ndonesia melarang tindakan
eutanasia.
1" #umu$an %a$ala&
/. )pakah euthanasia itu0
1. agaimana hubungan mati batang otak dengan euthanasia0
2. )pa dasar hukum yang melandasi diperbolehkannya tindakan euthanasia
di ndonesia0
3. Mengapa euthanasia menyebabkan dilemma bagi para dokter klinisi0
4. Mengapa euthanasia menjadi pro dan kontra di ndonesia0
1' (u)uan
)dapun tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain &
/. "ntuk mengetahui pengertian euthanasia dan keterkaitannya dengan kejadian mati
 batang otak
1. "ntuk mengetahui landasan hukum yang memperkuat tindakan euthanasia
2. "ntuk memahami berbagai dilema yang terjadi pada kasus pasien mati batang
otak euthanasia terhadap para klinisi di ndonesia.
BAB II
(INJAUAN PUS(A*A
21 Pen!ertian
 stilah 5eutanasia6 berasal dari bahasa 7unani& 5eu6 'baik( dan 5thanatos6 'kematian(,
sehingga dari segi asalnya berarti 5kematian yang baik6 atau 5mati dengan baik6. stilah lain
yang hampir semakna dengan itu dalam bahasa arab adalah
qatl 
ar-rahmah
 
'pembunuhan dengan kasih sayang( atau
taisir al-maut 
 
'memudahkan kematian(.
$utanasia sendiri sering diartikan sebagai tindakan memudahkan kematian seseorang dengan
sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan
si sakit, baik dengan cara positi% maupun negati%.
*emudian jika jauh merujuk ke belakang. Menurut Philo '48-18 #M( eutanasia berarti mati
dengan tenang dan baik, sedangkan #uetonis penulis 9omawi dalam bukunya yang berjudul
:ita !easarum mengatakan bahwa euthanasia berarti 5mati cepat tanpa derita6 'dikutip dari
4(. #ejak abad /; terminologi euthanasia dipakai untuk penghindaran rasa sakit dan
 peringanan pada umumnya bagi yang sedang menghadapi kematian dengan pertolongan
dokter.
*ode $tik *edokteran ndonesia menggunakan eutanasia dalam tiga arti, yaitu&
/.erpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan, buat yang
 beriman dengan nama )llah di bibir.
1.ukum Pidana6. 7ang menarik adalah, selama beberapa tahun terakhir ini, di
 bidang hukum terjadi terobosan. eberapa negara sudah memodi%ikasi hukumnya agar 
eutanasia atau bunuh diri berbantuan diperbolehkan dan lebih banyak negara lagi sedang
mengadakan percobaan ke arah itu.
elanda adalah negara pertama yang memungkinkan eutanasia. etapi perlu
ditekankan, dalam 5*itab >ukum Pidana6 elanda secara %ormal eutanasia masih
dipertahankan sebagai perbuatan kriminal. >anya saja, kalau beberapa syarat
dipenuhi, dokter yang melakukan tidak akan dituntut di pengadilan. indakannya
akan dianggap sebagai
 force majeure
 atau 5keadaan terpaksa6, di mana
hukum tidak bisa dipenuhi. #ejak akhir tahun /;;2, elanda secara hukum
mengatur kewajiban para dokter untuk melapor semua kasus eutanasia dan bunuh
diri berbantuan. nstansi kehakiman selalu akan menilai betul tidaknya
 prosedurnya
 Negara bagian )ustralia, Northern erritory, menjadi tempat pertama di
dunia dengan "" yang mengi?inkan eutanasia dan bunuh diri berbantuan, meski
reputasi ini tidak bertahan lama. Pada tahun /;;4 Northern erritory
menerima "" yang disebut
 Right of the terminally ill bill 
 '"" tentang
hak pasien terminal(. "ndang-undang baru ini beberapa kali dipraktikkan, tetapi
 bulan Maret /;;@ ditiadakan oleh keputusan #enat )ustralia, sehingga harus
ditarik kembali.
#aat ini satu-satunya tempat di mana hukum secara eksplisit mengi?inkan
 pasien terminal mengakhiri hidupnya adalah negara bagian )#, regon. ahun /;;@ regon
melegalisasikan kemungkinan ini dengan memberlakukan
The death with dignity act 
 '""
tentang kematian yang pantas(.
elum jelas entah undang-undang regon ini bisa dipertahankan di masa depan,
sebab dalam #enat )# pun ada usaha untuk meniadakan "" negara bagian ini. Mungkin saja
nanti nasibnya sama dengan "" Northern erritory di )ustralia. ulan Aebruari lalu sebuah
studi terbit tentang pelaksanaan "" regon selama tahun /;;; 'he New $ngland =ournal o% 
Medicine, 13-1-1888(.
B/C
#ebuah %akta eutanasia di )# yang telah dilakukan oleh dr. =ack *evorkian.
*evorkian yang dijuluki
 Doctor Death
itu 5menolong6 pasien yang masih diragukan
statusnya, sehingga menjadi tanda tanya apakah yang dilakukannya itu benar-benar 
5menolong6 pasien atau malahan membunuhnya. Dari C; pasien yang kematiannya 5dibantu6
oleh dr. *evorkian antara /;;8E/;;F, hanya 14G yang didiagnosis sebagai
terminally-ill 
 berdasarkan hasil otopsi. #ebanyak @1G dari pasien itu diduga kuat semakin menurun kondisi
kesehatannya, justru karena dorongan keinginannya untuk mati. >al yang juga patut
diperhatikan ialah @/G dari pasien yang 5dibantu6 oleh dr.
*evorkian ternyata adalah wanita, suatu %akta yang bertentangan dengan data
epidemiologis di berbagai kawasan dunia yang justru menunjukkan bahwa kaum
wanita yang ingin mati karena penyakitnya jauh lebih sedikit dibanding kaum
laki-laki. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh
 Doctor Death
 itu
sekarang menjadi perdebatan dari segi etika, sosial, dan hukum kedokteran,
 pantaskah dokter menentukan 5status6 dan kemudian langsung 5menolong6 pasien
yang berkeinginan mati tersebut. Perlukah suatu badan atau dewan yang berwenang
menentukan atau memutuskan bahwa seseorang telah sampai pada tahap
terminally-ill
dan
untuk itu layak 5ditolong6 dengan euthanasia0
Di ndonesia seruan akan legalisasi eutanasia belum terdengar lantang.
Mungkin, Menteri Negara "rusan >)M kita belum pernah mendapat permintaan untuk 
menaruh perhatian kepada 5hak untuk mati6. etapi tidak mungkin diragukan,
 perawatan pasien terminal juga merupakan suatu masalah medis yang mahapenting
di anah )ir kita.
BAB III
(INJAUAN *ASUS
21 *a$u$ pertama
Pasien n. M, umur C8 tahun dengan diagnose dokter suspek syok kardiogenik,
dirawat di icu 9#"D 5P6 baru beberapa jam, kesadaran koma, terpasang
ventilator, obat-obatan sudah maksimal untuk mempertahankan %ungsi jantung dan
organ vital lainnya. "rine tidak keluar sejak pasien masuk icu. *eluarga
menginginkan dicabut semua alat bantu yang ada pada pasien. Penjelasan sudah
diberikan kepada keluarga, dokter meminta kesempatan kepada keluarga untuk 
mencoba menyelamatkan nyawa pasien, tetapi keluarga tetap pada pendiriannya.
*eluarga menandatangani surat penolakan untuk diteruskannya perawatan di icu
dan surat penolakan dilakukannya tindakan. )khirnya ventilator dimatikan oleh
anak pasien dan semua alat dicabut dari pasien dengan disaksikan oleh keluarga,
dokter dan perawat icu dan pasien meninggal dunia.
22 *a$u$ *eua
*asus ini benar-benar terjadi disuatu kota di ndonesia. #eorang pasien '@1 tahun( sudah
tidak bekerja dan tidak mempunyai mata pencaharian lagi, jatuh sakit. >idupnya tergantung
dari para saudara yang tidak bisa menolong banyak.
#uatu hari dia jatuh pingsan dan dibawa ke suatu rumah sakit dan dimasukkan ke >igh !are
"nit. Pasien diberikan oksigen. Pemeriksaan laboratorium menujukkan bahwa kedua
ginjalnya sudah tidak ber%ungsi, sehingga harus dipasang kateter. #etelah dilakukan observasi
 beberapa jam, sang dokter menganjurkan memasukkan ke !" karena perlu diberi bantuan
 perna%asan melalui ventilator. Dokter jaga meminta persetujuan anggota keluarganya.
#audaranya memutuskan untuk menolak menandatangani surat penolakan. Mengapa 0 karena
atas pertimbangan man%aat dan %inansial walaupun dirawat di !", belum tentu pasien
tersebut akan bisa disembuhkan dan bisa normal kembali seperti sedia kala. )pakah
keputusan untuk menolak ini salah 0 Penolakan ini tentu sudah diperhitungkan dan dipikirkan
matang-matang.
#uatu hari dirawat diruang >!" dengan obat-obat saja sudah menelan biaya beberapa juta.
agaimana jika harus diteruskan di !" 0 pembiayannya akan tidak bisa terbayar dan
 bagaimna pemecahannya kelak 0 )pakah saudara itu dapat dipersalahkan karena tega tidak 
mau menolong saudaranya dengan memasukkan ke !" 0 masalah yang dipertimbangkan &
apakah bisa terbayar biaya-biaya !" dan obat-obatannya yang mahal itu yang setiap hari
harus dikeluarkan0 rapa lama pasien itu harus dirawat 0 )pakah masih bisa dikembalikan
kesehatanya seperti semula, sedangkan umurnya sudah @1 tahun 0 seandainya bisa tertolong
 bagaimana selanjutnnya 0 bukan kah %ungsi ginjalnya sudah tidak bekerja 0 ini berarti ia
harus dilakukan dialisis seminggu dua kali yang perkalinya kurang lebih berjumlah beberapa
ratus ribu rupiah. agaimana bissa membiayainya terus-menerus, sedangkan saudaranya juga
orang bekerja dan mana mungkin membiayai cuci darah disamping mengongkosi rumah
tangganya sendiri 0)pa salah jika ia menolak saudaranya dirawat di !" 0 dan jika ia harus
 berbaring terus di tempat tidur, buang air harus ditolong, siapa yang bias mengurusnya dan
 bagaimana membiayainya 0 9umusan dilema etik dilema keluarga yang tidak setuju dengan
 pemasangan ventilator dilema pasien yang ingin dimasukkan ke !" dilema keluarga tentang
 biaya !" dan obat-obatan yang mahal
dilema dokter tentang pemasangan ventilator dilema keluarga tentang masa depan pasien.
 #uatu hari dia jatuh pingsan dan dibawa ke suatu rumah sakit dan dimasukkan ke >igh !are
"nit. Pasien diberikan oksigen. kedua ginjalnya sudah tidak ber%ungsi, sehingga harus
dipasang kateter. #ang dokter menganjurkan memasukkan ke !" karena perlu diberi
 bantuan perna%asan melalui ventilator.
 
Dokter jaga meminta persetujuan anggota keluarganya. )N)H##& Pada kasus ini seorang
dokter ingin melakukan yang terbaik buat pasiennya dan tidak ingin lebih memperburuk 
keadaan pasien dimana memasukkan pasien ke >!" dan memberikan bantuan oksigen serta
memberikan in%ormasi tentang apa yang yang sebaiknya dilakukan pasien. Menurut
=>N#N #$+H$9 saudaranya memutuskan untuk menolak menandatangani surat
 penolakan. )pakah masih bisa dikembalikan kesehatanya seperti semula, sedangkan
ϑ
umurnya sudah @1 tahun 0 seandainya bisa tertolong bagaimana selanjutnnya 0 bukan kah
%ungsi ginjalnya sudah tidak bekerja 0 ini berarti ia harus dilakukan dialisis seminggu dua kali
yang perkalinya kurang lebih berjumlah beberapa ratus ribu rupiah.
 
BAB I/
PE%BAHASAN
Pasien-pasien sakit berat yang mengandalkan bantuan ventilator dan alat-alat
 penunjang hidup lainnya, seringkali membingungkan dokter yang merawatnya. Dari sisi
medis, pasien tidak ada harapan hidup karena hampir semua organ vital tubuhnya sudah
rusak. Namun di sisi lain, mencabut semua alat bantu hidup dianggap sebagai tindakan
5pembunuhan6 yang tentunya bisa berbuntut peluang penuntutan oleh keluarga pasien. Di
luar itu, biaya perawatan !" yang tidak murah semakin membengkak dan bisa jadi keluarga
 pasien pun tak sanggup menanggungnya.
#ituasi tersebut seringkali dialami oleh dokter dan perawat yang bertugas di !".
 End-of life decisions,
atau keputusan untuk mengakhiri hidup pasien-pasien yang tidak ada
harapan hidup,dilihat dari pertimbanganetis dan medis, menjadi pembuka acara #imposium
 Nasional ketiga yang diselenggarakan Perhimpunan *edokteran $mergensi ndonesia
'PD$(. )cara berlangsung 1C-1@ )gutsus 188C lalu di >otel Milenium, =akarta.
Dijelaskan oleh Dr. #un #unatrio #p)n-*!, semua pasien kritis yang memiliki
harapan hidup wajib masuk !". Namun hanya ada empat kemungkinan bagi pasien yang
masuk !"& sembuh '
 getting better),
meninggal, mengalami mati batang otak '
brain stem
death),
atau dalam kondisi tidak ada harapan hidup dan sepenuhnya bergantung dengan
 bantuan ventilator. 5Pasien jenis terakhir inilah yang terkadang menjadi dilema bagi dokter.
Dari sisi penilaian medis, pemberian ventilator tidak akan berman%aat, hanya memperpanjang
 proses kematian. )pa yang akan )nda lakukan sebagai dokter06 #unatrio bertanya pada
 peserta simposium.
Masalahnya di ndonesia, tambah dokter dari Departemen )nastesiologi A*"I9#!M
ini, belum banyak dokter yang berani melakukan
end-of-life decision
. Padahal, sudah ada
%atwa D yang membolehkan hal itu. )da beberapa pilihan yang bisa dilakukan dokter 
terhadap pasien tanpa harapan hidup, yakni
with-holding 
 atau
with-drawing life supports
,
yakni penundaan atau penghentian alat bantuan hidup.
*edua tindakan ini bisa dilakukan pada pasien yang dalam kondisi vegetati% 
'sindroma aplika atau mati sosial(. *ondisi vegetati% bisa dijelaskan secara medis bila
terdapat kerusakan otak berat yang ireversibel pada pasien yang tetap tidak sadar dan tidak 
responsive, tetapi pasien memiliki $$+ akti% dan beberapa re%leks yang utuh. Pada pasien
 bisa saja terdapat daur antara sadar dan tidur. 5ni harus dibedakan dari mati serebral yang
$$+-nya tenang atau dari mati batang otak 'M(, di mana tidak ada re%leks sara% otak dan
napas spontan,6 ujar #unatrio.
Meski sebagian masyarakat masih sulit menerima, namun pasien yang sudah mati
 batang otak, dari sisi medis dinyatakan sudah meninggal. Normalnya, ventilator secara
otomatis akan dilepaskan dari pasien dan jantung akan berhenti tidak lama kemudian.
ith-holding
diartikan sebagai tindakan untuk tidak memberikan terapi baru walau
ada indikasi penyakit baru,namun tindakan yang sudah terlanjur diberikan tidak dihentikan.
#edangkan
with-drawing
adalah menghentikan semua terapi yang sudah diberikan kepada
 pasien sejak awal namun terbukti tidak berman%aat. 5=adi
with-drawing 
 lebih bersi%at akti% 
dibandingkan
with-holding 
 yang cenderung pasi% dalam mengakhiri hidup pasien.
ith-
drawing
 juga lebih cepat menghasilkan kematian secara cepat dan pasti.6
 Namun secara legal maupun moral, sebenarnya tidak ada perbedaan di antara kedua
tindakan tersebut. indakan ini berbeda dengan eutanasia yang diartikan sebagai tindakan
akti% dan langsung untuk mengakhiri kehidupan. #ebagian besar negara termasuk ndonesia
melarang tindakan eutanasia. 5
ith-holding
maupun
with-drawing
dapat diterima dan
dibenarkan bilamana penanganan medis hanya memperpanjang proses kematian,6 jelas
#unatrio lagi.
7ang tergolong
life support
yang bisa dihentikan adalah perawatan !", !P9, alat
 pengontrol irama jantung, intubasi trakeal, ventilator, obat-obat vasoakti%, total nutrisi
 parenteral, organ buatan, trans%usi darah, serta monitoring secara intensi%. Di ndonesia, untuk 
 pemberian antibiotik, nutrisi, dan cairan dasar bahkan termasuk
life support
yang dihentikan.
#unatrio sendiri lebih menganjurkan tindakan
with-drawing
daripada
with-holding!
)lasannya, jika tindakan
with-drawing
tidak dilakukan, maka ruang !" akan dipenuhi oleh
 pasien yang sebenarnya tidak ada harapan hidup. Dan jika hal ini dibiarkan justru akan
melanggar empat prinsip-prinsip etik.
*eempat pelanggaran etik uang dimaksud adalah dari sisi man%aat buat pasien. #elain
itu melanggar kewajiban untuk tidak menyiksa pasien dan melanggar hak pasien. 5#iapapun
tidak ingin hidup seperti sayuran,6 jelas #unatrio. Dan terakhir dari sisi keadilan, maka akan
melanggar hak pasien lain. )rtinya, pasien yang lebih memiliki harapan hidup seharusnya
lebih diprioritaskan. Dari segi %inansial juga seharusnya biaya untuk perawatan yang sia-sia
 bisa dialokasikan ke hal lain yang lebih berguna.
#ayangnya masih banyak dokter yang tidak berani melakukan tindakan
with-drawing 
maupun
with-holding!
Mungkin karena memberi kesan sengaja membunuh. 5Padahal yang
dituju bukan mengakhiri nyawa pasien namun menghentikan prosedur sulit yang sia-sia,6
 jelas #unatrio yang merupakan pelopor tindakan
with-drawing!
a mengaku sudah melakukan
tindakan ini sejak /;FC.
Di ndonesia sendiri sudah ada aturan untuk melakukan tindakan
with-holding
dan
with-drawing!
)ntara lain %atwa D tahun /;FF yang disempurnakan tahun /;;8 tentang
 penentuan mati dan eutanasia pasi%. Dalam waktu dekat bahkan akan keluar #* Menteri
*esehatan tentang mati dan
with-holding"with-drawing!
*eputusan ini merupakan hasil
diskusi dengan D#), P*+D, Perdici, dan rganisasi Pro%esi Medis *linis. #elain itu ada
#* Direktur 9#!M tahun 188C tentang penentuan mati dan
with-holding"with-drawing life
 support!
Menurut ketentuan baik %atwa D maupun #* Direktur 9#!M,
with-drawing"with-
holding 
 adalah keputusan medis dan etis oleh sebuah tim yang terdiri dari tiga orang dokter 
yang kompeten. #ebelum keputusan penghentianIpenundaan bantuan hidup dilaksanakan, tim
dokter wajib menjelaskan kepada keluarga pasien tentang keadaan pasien dan keputusan tim
dokter 

Dalam hal tidak dijumpai adanya keluarga pasien, maka harus diperoleh persetujuan
dari pimpinan 9umah #akit atau *omite Medis 9umah #akit.
Dipaparkan oleh Pro%. Dr. #jamsuhidayat #p, *D, persoalan
 End-of-life decisions
sempat diteliti dalam studi di enam negara di $ropa, yang dimuat dalam
The #ancet 
, tahun
1882 lalu. Menurut pelaku studi, perkembangan ilmu kedokteran yang sangat pesat
menghasilkan kemungkinan perbaikan yang berarti pada pasien sakit serius dan bisa
memperpanjang usia hidup. Namun belakangan ditemukan, bahwa memperpanjang hidup
 pasien tidak selalu menjadi tujuan pengobatan yang diharapkan.
#tudi ini menyimpulkan, kebanyakan keputusan medis dalam hal mengakhiri hidup
 pasien, paling sering dilakukan pada pasien yang memang tidak ada harapan hidup
'sekaratI
dying 
( di semua negara peserta studi. Dalam membuat keputusan, pasien dan
keluarganya kebanyakan dilibatkan.
*esimpulan lain, keputusan medis yang dibuat untuk pasien-pasien kritis pada
akhirnya akan melibatkan pertimbangan dari sisi medis, etikal, psikologis, dan aspek sosial.
Petimbangan-pertimbangan ini, ditambah latar belakang hukum di masing-masing negara,
 pada akhirnya menghasilkan keputusan medis tentang
end of life decisions,
yang bisa
melibatkan dokter, pasien dan keluarganya.
BAB /I
*ESI%PULAN
agi seorang dokter maupun perawat, masalah eutanasia merupakan suatu dilema
yang menempatkannya pada posisi yang serba sulit. Di satu pihak, ilmu dan teknologi
kedokteran telah sedemikian maju sehingga mampu mempertahankan hidup seseorang
'walaupun yang istilahnya hidup secara vegetati%(J sedangkan di pihak lain pengetahuan dan
kesadaran masyarakat terhadap hak-hak individu juga sudah sangat berubah.
Dengan demikian, konsep kematian dalam dunia kedokteran masa kini
dihadapkanpada kontradiksi antara etika, moral, dan hukum di satu pihak, dengan
kemampuan serta teknologi kedokteran yang sedemikian maju 'sehingga mampu
mempertahankan hiduup
$egetatif 
 tadi( di pihak lain.
Masalah eutanasia tidak akanpernah pergi. #ebab di era modern ini yang bentuk 
kehidupannya sudah jauh dari kata 5alamiah6. Menuntut agar manusia dibiarkan mati secara
5alamiah6 nampak ilusoris. Dalam konteks eutanasia
$is a $is
 dengan kemajuan ilmu dan
teknologi kedokteran. Masalah baru dalam etika kedokteran akan terus timbul seiring dengan
kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran itu sendiri, tetapi menjadi patut disayangkan dan
kemudian harus terus direnungkan secara mendalam. ahwa sejauh ini solusi etis sangat
 jarang ditawarkan.
*enyataan menunjukkan bahwa seringkali para dokter dan tenaga medis lain harus
 barhadapan dengan kasus-kasus yang dikatakan sebagai eutanasia itu, dan di situlah tuntunan
serta rambu-rambu etika, moral, dan hukum sangat dibutuhkan. Dan rambu-rambu itu harus
dibuat dengan berpegang pada keempat aspek eutanasia yang sudah saya paparkan
sebelumnya, yakni aspek hukum, hak asa?i, ilmu pengetahuan dan agama.
DA(A# PUS(A*A
)ndrew !. :arga,
The %ain &ssues in 'ioethics
, New 7ork /;F3, hal. 1CF.
ertens, *,
 Eutanasia( erdebatan *ang 'erkepanjangan
, *ompas, 1F #eptember 1888.
Haodesyamri.
www.id.#>:oong.com
 
tanggal 8@ Maret 18//
#imposium 5Dilema di alik $ksekusi Mati6
 
$disi ktober 188C
 ':ol.C No.2(
#useno Magnis, Aran?. Dalam majalah >igina dan kemudian digunakan lagi oleh beliau
dalam buku nya&
 'erfilsafat Dari +onteks
, +ramedia, hal. /@3.
 #useno Magnis, Aran?,
 'erfilsafat Dari +onteks
, +ramedia, hal. /@C.
Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 DOKUMENSAYA.COM Inc.