Analisis Efisiensi Teknis Penangkapan Ikan Menggunakan Alat Tangkap Purse

May 19, 2016 | Penulis: Khaeru Alfin Wirandana | Kategori: N/A
Share Embed


Deskripsi Singkat

Download Analisis Efisiensi Teknis Penangkapan Ikan Menggunakan Alat Tangkap Purse...

Deskripsi

 Eko Sri Wiyono
 J Tek Ind Pert. 22 (3): 164-172
167
Selanjutnya, faktor komponen
output 
 dari
kegiatan penangkapan ikan dengan alat tangkap
 purse seine
 ini adalah lemuru, ikan yang dominan
tertangkap. Kapasitas
output 
 dan nilai pemanfaatan
sempurna dari
input 
, selanjutnya dihitung dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut (Färe
et
al 
., 1989):
1
,
,
 
 
 
 z 
 Max
 
subject to



 J 
 j
 jm
 j
 jm
 u
 z 
u
1
1
 ,
 
 
,
,...,
2
,
1
 M 
m
 
 



 J 
 j
 jn
 jn
 j
 x
 x
 z 
1
,
 
 f  
 x
n

 



 J 
 j
 jn
 jn
 jn
 j
 x
 x
 z 
1
,
 
 
v
 x
n

 
,
0

 j
 z 
 
 J 
 j
 ,...,
2
,
1

 
,
0

 jn
 
 
v
 x
n

 
Dalam hal ini
 z 
 j
 adalah variabel intensitas untuk
 j
th
 pengamatan;
1
 
 nilai efisiensi teknis atau proporsi
dengan mana output dapat ditingkatkan pada kondisi
 produksi pada tingkat kapasitas penuh; dan
*
 jn
 
 
adalah rata-rata pemanfaatan variable input (
variable
input utilization rate, VIU 
), yaitu rasio penggunaan
inputan secara optimum
 x
 jn
 terhadap pemanfaatan
inputan dari pengamatan
 x
 jn
.
Kapasitas
output 
 pada efisiensi teknis
(
technical efficiency capacity output 
, TECU)
kemudian didefinisikan sebagai penggandaan
 *
1
 
dengan produksi sesungguhnya. Kapasitas
 pemanfaatan (CU), berdasarkan pada
output 
 
 pengamatan, kemudian dihitung dengan persamaan
 berikut (Färe
et al 
., 1989):
*
1
*
1
1
 
 


u
u
TECU 
 
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perkembangan Hasil Produksi Lemuru
Produksi lemuru di Selat Bali terus
mengalami penurunan. Bila pada periode tahun
2005-2007 total hasil tangkapan yang didaratkan
meningkat dari 11.800,858 ton menjadi 38.617,008
ton, maka dari tahun 2007 sampai tahun 2010
 produksinya terus menurun dan hanya mencapai
17.854,857 ton (Tabel 2). Penurunan paling drastis
terjadi pada periode tahun 2009-2010, dimana pada
 periode itu terjadi penurunan hampir 50%. Selain
cuaca yang ekstrem, penurunan hasil tangkapan
tersebut diduga karena berlebihnya armada
 penangkapan ikan.
Bila dibandingkan dengan kondisi
maksimum lestarinya (Merta
et al.,
 2000), maka
hasil tangkapan lemuru pada periode 2005-2010 juga
telah mencapai
overfishing 
. Kondisi ini tentunya
sangat mengkhawatirkan sumberdaya lemuru dan
kegiatan penangkapan ikan
 purse seine
. Gejala
overfishing 
 ini, diduga disebabkan oleh
overcapacity
 
yang berlangsung terus menerus yang pada akhirnya
menyebabkan
overfishing 
. Gejala terjadinya
overfishing 
 sumberdaya lemuru di Selat Bali, telah
ditunjukkan oleh fakta-fakta seperti yang
dikemukakan oleh Widodo (2003), diantaranya
adalah: (1) hasil tangkapan nelayan yang terus
menurun, (2) daerah penangkapan (
 fishing ground 
)
semakin jauh dan (3) ukuran ikan yang tertangkap
semakin kecil.
Dinamika Musiman Penangkapan Ikan
Selanjutnya bila ditinjau dari musimnya,
 penangkapan lemuru di Selat Bali terjadi pada bulan
Oktober hingga September, yaitu pada saat musim
 peralihan sampai dengan musim timur (Oktober-
April) sedangkan pada musim barat (April-Oktober)
terjadi musim paceklik (Tabel 3).
Tabel 2. Produksi (tahunan) lemuru di Selat Bali tahun 2005-2010
Tahun
Produksi lemuru (ton)
10-30 GT (PS) 5-10 GT (MPS) Total
2005 8.674,112 3.126,746 11.800,858
2006 13.695,591 4.936,050 18.631,641
2007 6.757,780 11.859,228 38.617,008
2008 20.287,721 11.518,945 31.806,666
2009 20.840,529 14.760,977 35.601,506
2010 10.128,554 7.726,303 17.854,857
Sumber : PPN Pengambengan, PPP Muncar, Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi,
dan Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan Jembrana tahun 2005-2010 (diolah kembali)
 Analisis Efisiensi Teknis Usaha Penangkapan
 
……….
 
168
 J Tek Ind Pert. 22 (3): 164-172
 
Tabel 3. Rata-rata hasil produksi bulanan lemuru di Selat Bali tahun 2005-2010
Bulan
Produksi (ton)
Jembrana
Produksi (ton)
Banyuwangi
Total (ton)
Januari 976,011 2.088,668 3.064,678
Februari 913,604 2.028,377 2.941,982
Maret 559,339 2.168,665 2.728,004
April 1.010,205 1.544,999 2.555,204
Mei 1.155,955 1.887,912 3.043,868
Juni 635,271 1.001,970 1.637,242
Juli 376,182 534,164 910,346
Agustus 573,620 968,910 1.542,530
September 823,332 1.456,735 2.280,067
Oktober 1.356,323 1.814,987 3.171,310
 Nopember 2.010,835 3.727,994 5.738,829
Desember 1.432,315 2.904,169 4.336,484
Jumlah 11.822,994 22.127,551 33.950,545
Sumber : PPN Pengambengan, PPP Muncar, Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi,
dan Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan Jembrana tahun 2005-2010 (diolah kembali)
Lemuru di Selat Bali ditangkap dengan
menggunakan alat tangkap
 purse seine
 (PS) dan
mini
 purse seine
 (MPS). Kedua alat tangkap
tersebut sangat berfluktuasi setiap bulannya
mengikuti musim penangkapan ikan (Tabel 4).
 Effort 
 tertinggi mini
 purse seine
 terjadi pada bulan
 November (70 upaya) dan terendah bulan Juli (15
upaya).
 Effort 
 
 purse seine
 tertinggi terjadi pada
 bulan November (283 upaya) dan terendah terjadi
 pada bulan Juli (68 upaya).
T
abel 4.
 Effort 
 rata-rata bulanan tahun 2005-2010
Bulan
MPS PS
Januari 66 193
Februari 49 169
Maret 67 244
April 50 203
Mei 56 208
Juni 29 121
Juli 15 68
Agustus 27 115
September 38 182
Oktober 32 163
 Nopember 70 283
Desember 52 248
Jumlah 549 2.195
Sumber: PPN Pengambengan, PPP Muncar, Dinas
 Kelautan dan Perikanan Banyuwangi, dan Dinas
 Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan
 
 Jembrana tahun
2005-2010 (diolah kembali)
Hasil pengkajian musim penangkapan ikan
dengan menggunakan analisis indek musim juga
menunjukkan pola yang serupa. Musim
 penangkapan lemuru terjadi pada saat musim timur,
yaitu sekitar bulan Agustus-Desember. Selama
 bulan Februari-Juni, musim penangkapan lemuru
mencapai musim sedang (Gambar 2). Fakta ini
menunjukkan bahwa musim ikan lemuru tidak
 berlangsung stabil sepanjang tahun. Produksi ikan
tidak konstan sepanjang tahun, tetapi berfluktuasi
setiap bulannya dengan rentang yang cukup lebar.
Industri Pengolahan Lemuru
Pengolahan adalah tahapan yang sangat
 penting dalam industri perikanan lemuru. Selain
untuk meningkatkan nilai tambah, pengolahan juga
diharapkan akan memberikan kemudahan dalam
 pemasaran dan penyimpanan. Mengingat fungsinya
sebagai proses lanjutan dari serangkaian proses
 produksi, kegiatan pengolahan lemuru sangat
tergantung dari pasokan produksi ikan dari kegiatan
 penangkapan ikan. Perkembangan industri
 pengolahan di Muncar, berdasarkan data dari tahun
2005-2009 menunjukkan perubahan yang cukup
nyata. Secara umum, industri pengolahan ikan
mengalami pengurangan jumlah dari tahun ke tahun.
Bila dalam kurun waktu tahun 2005 sampai tahun
2007 mengalami peningkatan jumlah dari 55 industri
menjadi 106 industri, maka pada periode tahun 2009
turun menjadi 98 industri termasuk 4 industri
 pengalengan yang mengalami kondisi tidak aktif.
Tidak berbeda dengan industri besar, industri
kecil/rumah tangga juga mengalami penurunan, bila
tahun 2005 terdapat 233 pengolah turun menjadi 163
 pada tahun 2009 (Tabel 5).
Data tahun 2009 menginformasikan bahwa
untuk memenuhi industri pengolahan lemuru secara
optimum dibutuhkan sekitar 970 ton/hari, yang
terdiri dari 135 ton/hari untuk pengalengan, 780
ton/hari untuk penepungan, dan 55 ton/hari untuk
minyak ikan. Kebutuhan bahan untuk pengolahan
tradisional, diperkirakan sebanyak 14,3 ton/hari
 Eko Sri Wiyono
 J Tek Ind Pert. 22 (3): 164-172
169
lemuru yang terdiri dari 12 ton/hari untuk ikan asin
dan 2,3 ton/hari untuk ikan pindang (Tabel 6).
Berdasarkan kebutuhan tersebut, maka untuk
memenuhi indutri pengolahan ikan di Muncar,
dibutuhkan sekitar 984,3 ton/hari, atau setara dengan
295.290 ton/tahun (dengan asumsi industri
 pengolahan beroperasi selama 10 bulan), sedangkan
untuk kebutuhan ikan segar dibutuhkan sekitar 306,3
ton per hari atau setara dengan 110.268 ton/tahun.
Gambar 2. Indeks musim penangkapan lemuru di Selat Bali
Tabel 5. Perkembangan industri pengolah hasil lemuru di Muncar tahun 2005-2009
Kategori Industri Bidang Usaha
Tahun
2005 2006 2007 2008 2009
Besar
Pengalengan 11 12 8 8 11 *
Penepungan 25 35 52 34 52
Minyak ikan 14 11 11 11
Cold Storage
19 25 30 30 30
Pabrik Es 5 5 5 5
Jumlah
55 91 106 88 98
Kecil/
Rumah Tangga
Bakul/pedagang 140 139 115 109 111
Pengasinan 48 52 53 18 24
Pembekuan 16 5 5 5 5
Pemindangan 29 30 22 22 23
Jumla
h 233 226 195 154 163
Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi, 2005
 – 
 2009
Tabel 6. Jumlah industri pengolah lemuru dan kapasitas maksimumnya di
 
Banyuwangi Tahun 2010
Bidang Usaha
Jumlah
Aktif
Kapasitas Maksimum
(ton/hari)
Jumlah
(ton/hari)
Usaha Besar
Pengalengan 7 15 135
Penepungan 52 15 780
Minyak ikan 11 5 55
Cold Sotage 30 10 300
Pabrik Es 5 - -
Usaha Kecil/Rumah Tangga
Bakul/pedagang 111 - -
Pengasinan 24 0,5 12
Pembekuan 5 0,7 6,3
Pemindangan 23 0,1 2.3
Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi, 2010
50
60
70
80
90
100
110
120
130
JanFebMarAprMeiJunJulAgsSepOktNovDes
   N
   i
   l
  a
   i
   I
   M
   P
   (
   %
   )
Bulan
 Analisis Efisiensi Teknis Usaha Penangkapan
 
……….
 
170
 J Tek Ind Pert. 22 (3): 164-172
 
Bila dibandingkan antara kebutuhan bahan
 baku lemuru selama satu tahun (Tabel 6) dan
 produksi ikan baik yang dicapai tahun 2009 atau
2010 (Tabel 2), terlihat bahwa produksi lemuru dari
kegiatan penangkapan belum mampu untuk
memasok kebutuhan bahan baku industri pengolahan
ikan. Atas dasar informasi tersebut, dapat dipahami
 jika industri pengolah ikan tidak dapat beroperasi
 pada kapasitas maksimumnya. Ada kecenderungan
 bahwa sebagian besar industri sangat tergantung dari
hasil tangkapan ikan lokal dan memperebutkan
 jumlah hasil tangkapan yang sangat terbatas tersebut.
Akibat kurangnya bahan baku, maka 4 dari 11
industri pengalengan yang ada tidak aktif lagi.
Tidak berbeda dari industri pengalengan, industri
 pengolahan yang lain juga kurang berkembang
dengan baik. Faktor efisien yang masih rendah,
menyebabkan jumlah industri pengolah lemuru dari
tahun ke tahun terus mengalami pengurangan.
Berkurangnya industri pengolahan tentunya sangat
merugikan wilayah tersebut. Disamping
 pengurangan nilai tambah produk, juga berdampak
terhadap kondisi ekonomi wilayah, pengangguran
dan berhentinya industri pendukung lainnya.
Efisiensi Teknis
Hasil perhitungan dugaan kapasitas
 penangkapan perahu di Muncar menunjukkan bahwa
TECU (
Technical Efficiency Capacity Utilization
)
dari alat tangkap
 purse seine
 dan mini
 purse seine
 
menunjukkan tingkat pemanfaatan yang tidak
efiesien. Hasil perhitungan TECU pada bulan
Oktober menunjukkan bahwa sebagian besar perahu
 purse seine
 mempunyai nilai TECU lebih kecil dari
1, dimana rata-rata TECU untuk mini
 purse seine
 
adalah 0,32 dan
 purse seine
 0,48.
Fakta lain dari hasil kajian itu juga
menyebutkan bahwa input produksi dalam proses
 penangkapan ikan juga menunujukkan tingkat
 pemanfaatan yang tidak optimal. Variable input
 bahan bakar minyak (BBM) dan tenaga kerja (ABK)
 pada perahu mini
 purse seine
 menunjukkan gejala
kekurangan jumlah input. Hal ini ditunjukkan oleh
nilai VIU (
variable input utilization
) yang lebih
 besar dari 1. Sebaliknya input perbekalan,
menunujkkan gejala lebih, dimana nilai VIU-nya
 bernilai 0,89. Kondisi yang kontras terjadi pada
 perahu
 purse seine
, dimana hampir semua variable
inputannya menunjukkan gejala berlebih. Nilai VIU
dari semua variable input pada perahu
 purse seine
 
yang kurang dari 1 menunjukkan adanya gejala lebih
 pada inputan-inputan tersebut.
Manajemen Operasi Penangkapan Ikan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
hasil tangkapan lemuru telah mengalami penurunan
yang drastis dari tahun 2009 ke tahun 2010. Kondisi
ini, tentunya sangat mengkhawatirkan keberlanjutan
sumberdaya lemuru dan usaha penangkapan ikan
 purse seine
serta industri pengolahannya. Selama ini
kebutuhan bahan baku industri pengolahan ikan
masih sangat tergantung dengan hasil tangkapan
lokal. Bila hasil tangkapan lemuru berkurang,
sebagai dampaknya bahan baku industri akan
 berkurang dan industri pengolahan lemuru akan
 berhenti berproduksi. Tidak seperti industri
manufaktur yang hasil produksinya bisa dikontrol
 jumlahnya, produksi industri penangkapan ikan tidak
 bisa dikontrol dan justru dikendalikan oleh faktor
luar.
Gambar 3. Nilai TECU dan VIU alat tangkap
 purse seine
 dan mini
 purse seine
 di Muncar
Keterangan:
TECU =
Technical Efficiency Capacity Utilization
VIU
 = Variable Input Utilization
MPS
 = Mini
 
 Purse Seine
PS
 = Purse Seine
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.6
1.8
2
TECUVIU1 (BBM)VIU2
(Perbekalan)
VIU3 (ABK)
MPS
PS
 Eko Sri Wiyono
 J Tek Ind Pert. 22 (3): 164-172
171
Mengingat jumlah hasil tangkapan ikan
selalu berubah (bulan dan tahun), maka untuk
menjamin kelangsungan produksi dan pasokan
 bahan baku industri pengolahan ikan di Muncar,
sudah semestinya kegiatan penangkapan lemuru di
Selat Bali, dalam hal ini jumlah armada
 penangkapan ikan yang dialokasikan dalam operasi
 penangkapan ikan disesuaikan dengan musim
 penangkapan lemuru. Atas dasar tersebut, maka
 pengaturan armada penangkapan ikan lemuru ke
depan tidak didasarkan pada satuan waktu tahunan,
tetapi lebih sempit lagi yaitu bulanan. Selain lebih
operasional, pengaturan armada bulanan juga
memudahkan dalam mengontrol penggunaan input
 produksi optimum yang digunakan dalam setiap
 bulannya.
Selanjutnya agar pasokan bahan baku
industri pengolahan ikan di Muncar lebih terjamin,
maka perlu dilakukan pembenahan operasi
 penangkapan ikan alat tangkap
 purse seine
 dan
mini
 purse seine
. Perbandingan relatif tingkat
 pemanfaatan kapasitas penangkapan ikan antar alat
tangkap menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan
 perahu
 purse seine
 dan mini
 purse seine
 tidak
optimal. Secara umum dapat dikatakan bahwa
 pemanfaatan lemuru dengan menggunakan perahu
 purse seine
 telah mengalami lebih inputan atau
overcapacity.
 Sebaliknya pada perahu mini
 purse
 seine
, mengalami kekurangan variable input yang
digunakan sehingga juga tidak efisien. Dalam
kondisi hasil tangkapan yang semakin menurun,
sementara alat penangkapan ikan semakin
 bertambah, maka bila tidak dilakukan pengaturan
akan menimbulkan
overcapacity.
 Wiyono dan
Wahju (2006) yang mengkaji kegiatan penangkapan
ikan skala kecil di Pelabuhanratu serta Hufiadi dan
Wiyono (2009, 2010) yang melakukan penelitian
dengan alat tangkap
 purse seine
 di Pekalongan
menyimpulkan bahwa dalam kondisi persaingan
yang tinggi, pemanfaatan sumberdaya perikanan
cenderung mengarah terjadinya gejala
overcapacity.
 
 Nilai rata-rata VIU pada perahu
 purse seine
 
yang di bawah 1 menunjukkan bahwa sistem ini
telah terjadi
 surplus
 inputan (BBM, tenaga kerja dan
 perbekalan). Kekhawatiran kalah bersaing dan
respon berlebihan nelayan dalam memperebutkan
sumberdaya ikan lemuru dengan nelayan lain,
diduga menjadi penyebab berlebihnya input
 produksi kapal
 purse seine
. Kondisi menurunnya
 potensi ikan sementara permintaan ikan sebagai
 bahan konsumsi manusia yang semakin meningkat
mendorong nelayan untuk meningkatkan jumlah
upaya penangkapan ikan (jumlah dan kemampuan
tangkap) agar memperoleh ikan lebih banyak.
Sebagai akibatnya, nelayan akan bersaing untuk
mendapatkan ikan yang terbatas. Agar menang
 bersaing, mereka selalu berusaha untuk
meningkatkan kemampuan kapalnya dengan
menambah atau meningkatkan input produksinya.
Fenomena pada perikanan skala kecil di Laut
Mediterania (Madau
et al.,
 2009) dan Asia Tenggara
(Salayo
et al.,
 2008) menjelaskan fenomena tersebut.
Metzner (2005) menjelaskan bahwa berubahnya
kapasitas penangkapan ikan disebabkan oleh
 perubahan aspirasi dan metode operasi penangkapan
ikan, bukan dari aspek biologi ikan. Atas dasar
tersebut, maka agar pasokan bahan baku industri
 perikanan terjamin dan kegiatan penangkapan ikan
lemuru mencapai kondisi yang optimum, maka perlu
dilakukan pengurangan jumlah variable input yang
digunakan (BBM, tenaga kerja dan perbekalan),
sehingga diperoleh nilai optimum kapasitas operasi
 penangkapannya. Sebaliknya untuk perahu mini
 purse seine
, untuk mencapai kapasitas operasi
 penangkapan yang efisien maka perlu dilakukan
 penambahan variable input (BBM dan Tenaga kerja)
serta pengurangan perbekalan. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa usaha penangkapan ikan
dengan menggunakan mini purse seine tidak efisien
dan perlu adanya peningkatan ukuran perahu
sehingga mencapai ukuran yang ideal untuk
 penangkapan ikan di daerah Muncar.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Penangkapan lemuru di Selat Bali telah
mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Kehadiran
 purse seine
 telah meningkatkan produksi
yang sangat signifikan. Namun, perkembangan yang
kurang terkontrol menyebakan lemuru sudah mulai
menunjukkan
overfishing 
. Produksi lemuru telah
mengalami fluktuasi setiap tahunnya, dan cenderung
menurun. Begitu juga produksi lemuru mengalami
fluktuasi dalam setiap bulannya, mengikuti pola
musim penangkapan ikan yang terjadi.
Penghitungan efisiensi teknis usaha
 penangkapan ikan dengan alat tangkap
 purse seine
 
 baik yang besar maupun yang kecil, menunjukkan
 bahwa usaha purse telah menunjukkan gejala
overcapacity
 yang ditunjukkan oleh
input 
 produksi
 penangkapan ikan yang tidak optimal dan tidak
efisien.
Perikanan
 purse seine
 secara umum telah
mengalami
overcapacity
. Optimalisasi perikanan
 purse seine
 dilakukan dengan cara pengurangan
 jumlah semua variable input yang digunakan (BBM,
tenaga kerja dan perbekalan). Sebaliknya untuk
 perahu mini
 purse seine
, agar mencapai kapasitas
 penangkapan yang efisien maka perlu dilakukan
 penambahan jumlah dari variable inputnya (BBM
dan Tenaga kerja) serta pengurangan perbekalan.
Saran
Agar usaha penangkapan ikan dengan alat
tangkap
 purse seine
 di Selat Bali bisa berkelanjutan,
maka perlu dilakukan penataan armada penangkapan
ikan yang digunakan untuk menangkap lemuru.
Penataan armada selain menyangkut ukuran dan
 jumlah armada penangkapan, yang lebih penting lagi
 Analisis Efisiensi Teknis Usaha Penangkapan
 
……….
 
172
 J Tek Ind Pert. 22 (3): 164-172
 
adalah mengatur
input 
 produksi penangkapan
sehingga penangkapan ikan menjadi lebih efisien.
Bila usaha penangkapan ikan efisien, maka akan
didapatkan keuntungan dan armada penangkapan
ikan tidak melakukan penangkapan ikan yang
melebihi kapasitas maksimumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Berkes F, Mahon R, McConney P, Pollnac R,
Pomeroy R. 2001.
 Managing Small-Scale
 Fisheries: Alternative Directions and
 Methods.
 Ottawa: IDRC .
Fauzi A dan Anna S. 2005.
 Pemodelan
Sumberdaya Perikanan dan Kelautan untuk
 Analisis Kebijakan.
Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Himelda, Wiyono ES, Purbayanto A, Mustaruddin.
2011. Analisis Sumberdaya Perikanan
Lemuru (
Sardinella lemuru
Bleeker 1853) di
Selat Bali.
 J Marine Fish
. 2:165-176.
Hufiadi dan Wiyono ES. 2009. Tingkat Kapasitas
Penangkapan Armada Pukat Cincin
Pekalongan Berdasarkan pada Musim
Penangkapan.
 J Penelitian Perikanan Indo
.
15 (4): 313-320.
Hufiadi dan Wiyono ES. 2010. Konsentrasi Dan
Tingkat Efisiensi Penangkapan Pukat Cincin
Pekalongan di Beberapa Daerah
Penangkapan.
 J Penelitian Perikanan Indo
.
6 (2 ): 107-114.
Kirkley JE dan Squires D. 1999. Capacity and
Capacity Utilization in Fishing Industries:
Discussion
 Paper 
 99-16 University of
California Departement of Economics. San
Diego. 34 hlm.
Kirkley JE, Farë R, Grooskopf S, McConnel K,
Squires DE, Strand I. 2001. Asessing
Capacity and Capacity Utilization in
Fisheries When Data are Limited.
 North Am
 J Fisheries Mgmt 
 21:482-497.
Madau FA, Idda L, dan Pulina P. 2009. Capacity
and Economic Efficiency in Small-Scale
Fisheries: Evidence from Mediterranean Sea.
 Marine Policy
 33:860-867.
Makridakis S, Wheelwright SC dan McGee VE.
1983.
 Forecasting: Methods and
 Application
. 2nd ed. New York: Wiley and
Sons.
Metzner 
 R. 2005. Fishing Aspirations and Fishing
Capacity: Two Key Management Issues.
 Int
 J Marine and Coastal Law
. 20: 3
 – 
4
 
Merta IGS, Widana K, Yunizal, Basuki R. 2000.
Status the Lemuru Fishery in Bali Strait Its
Development and Prospects. Papers
Presented at the Workshop on the Fishery
and Management of Bali Sardinella
(
Sardinella Lemuru
) in Bali Strait.
GCP/INT/648/NOR/Field Report F-3-Suppl.
(En). FAO-UN.
 Nikijuluw VPH. 2002. Small-scale fisheries
management in Indonesia. In Interactive
Mechanisms for Small-scale Fisheries
Management: Report of the Regional
Consultation
.
 Seilert, H.E.W. (ed), FAO
Regional Office for Asia and the Pacific,
Bangkok, Thailand. RAP Publication
2002/10. 153 pp.
Salayo N, Garces L, Pido M, Viswanathan K,
Pomeroy R, Ahmed M, Siason I, Seng K,
Masa A. 2008. Managing Excess Capacity
in Small-Scale Fisheries: Perspectives from
stakeholders in three Southeast Asian
countries.
 Mar Pol.
 32: 692-700.
Setyohadi D. 2009. Studi Potensi Dan Dinamika
Stok Ikan Lemuru (
Sardinells lemuru)
 Di
Selatan Bali Serta Alternatif
Penangkapannya.
 J Perikanan
 9 (1): 97-107.
Tingley D, Pascoe S, dan Mardle S. 2002.
Estimating Capacity Utilization in
Multipupose Multi-Metier Fisheries.
 Fisheries Res.
 63: 121-134.
Ulrich C dan Andersen BO. 2004. Dynamics of
fisheries and the Flexibility of Vessels
Activity in Denmark Between 1989 and
2001.
 J Mar Sci.
61: 308-322.
Widodo J dan Suadi. 2006.
 Pengelolaan
Sumberdaya Perikanan Laut 
. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Wiyono ES dan Wahju RI. 2006. Perhitungan
Kapasitas Penangkapan (
 Fishing Capacity
)
 pada Perikanan Skala Kecil Pantai. Suatu
Penelitian Pendahuluan.
 Prosiding Seminar
 Nasional Perikanan Tangkap
. Bogor.
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya
Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Hlm.381-
389.
Lihat lebih banyak...

Komentar

Hak Cipta © 2017 DOKUMENSAYA.COM Inc.